Teduh di Rumah, Tangguh di Karya: Keluarga Sebagai Muara Pengabdian
Perjalanan khidmat ini bermula pada 4 Oktober 2004, saat saya mengikrarkan janji suci bersama Prof. Shofwatul 'Uyun. Dari ikatan ini, Allah menitipkan amanah pertama, seorang putri yang kami namai Amira Fathinah. Lahir di Jepara pada 18 Maret 2006, kehadirannya menjadi doa agar ia tumbuh menjadi pemimpin yang bijaksana dan cerdas (fathonah). Langkah pendidikannya ditempa mulai dari TK ABA Nuraini Ngampilan hingga SD Muhammadiyah Sapen Yogyakarta. Semangat belajarnya kemudian membimbingnya untuk "nyantrik" di Pondok Gontor Putri 2 Darussalam hingga jenjang Madrasah Aliyah. Kini, Amira sedang menekuni disiplin ilmu Informatika di Universitas Darussalam Gontor dengan spesialisasi Sistem Cerdas, meneruskan estafet bakat kedua orang tuanya di dunia digital.
Kebahagiaan keluarga kami semakin lengkap dengan hadirnya putri kedua, Nadira Zafira, yang lahir di Yogyakarta pada 21 September 2007. Menempuh jalur pendidikan dasar yang sama dengan kakaknya di TK ABA Nuraini dan SD Muhammadiyah Sapen, sosok yang akrab disapa Kak Dira ini tumbuh menjadi pribadi yang tekun. Ia melanjutkan studinya di Madrasah Mu'allimat Muhammadiyah Suronatan Yogyakarta melalui kelas International Class Program (ICP) dengan kurikulum Cambridge. Saat ini, dengan semangat yang meluap, Kak Dira sedang berikhtiar menjemput mimpi melalui seleksi beasiswa sarjana ke luar negeri, fokus mendalami bidang Data Science guna menjawab tantangan zaman.
Melengkapi dinamika di rumah kami, hadir si bungsu Nazeeya Qorira yang lahir di Kota Gudeg pada 6 Mei 2017. Sebagai penyejuk hati keluarga, Dik Qira juga memulai langkah kecilnya di TK ABA Nuraini Ngampilan dan kini tengah menempuh pendidikan kelas 4 Reguler di SD Muhammadiyah Sapen Yogyakarta. Sebagaimana jejak langkah kakak-kakaknya, kami berharap kelak ia juga akan mematangkan kemandirian dan spiritualitasnya dengan nyantrik di lembaga pendidikan keagamaan yang berkualitas, membekali diri dengan adab dan ilmu untuk masa depannya.
Pencapaian akademik dan gelar profesor yang saya sandang sejatinya bukanlah kerja keras personal semata. Di balik setiap lelah dan karya, ada peran luar biasa dari istri tercinta, Mak Uyun, yang didampingi oleh Kak Mira, Kak Dira, serta Dik Qira. Mereka adalah support system utama, dermaga tempat saya pulang, sekaligus motivator yang tak henti memberikan dorongan doa. Keberadaan merekalah yang senantiasa mengingatkan saya agar kesuksesan ini tidak hanya berhenti di dunia, melainkan menjadi bekal di akhirat dan terus menebar manfaat yang nyata bagi kemaslahatan umat.
Salam,
Imam Riadi