Perjalanan hidup Prof. Dr. Ir. H. Imam Riadi, M.Kom. adalah sebuah kisah ketekunan yang bermula dari kesederhanaan di Desa Pasuruhan Lor, Kudus. Tumbuh dalam bimbingan nilai-nilai luhur dari kedua orang tuanya, Bapak Haji Basuki dan Ibu Hajjah Rengganis, ia menemukan jati diri dan semangat pengabdian sejak menempuh pendidikan dasar di lingkungan Muhammadiyah. Akar pendidikan yang kuat inilah yang kemudian membawanya merantau menimba ilmu teknik, mulai dari SMK Negeri 2 Pati hingga akhirnya berlabuh di Yogyakarta untuk mendalami dunia teknologi informasi yang menjadi jalan khidmatnya hingga saat ini.
Dedikasi Prof. Imam di dunia akademis terpancar melalui pengabdian panjangnya di Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta sejak tahun 2002. Sebagai seorang pembelajar sejati, beliau konsisten memacu kapasitas diri dengan menyelesaikan studi doktoral di Universitas Gadjah Mada dan meraih gelar Profesi Insinyur. Baginya, gelar akademik bukanlah sekadar pencapaian pribadi, melainkan amanah besar untuk mencerdaskan generasi bangsa, baik melalui perannya sebagai dosen, auditor internal, maupun asesor nasional yang menjamin mutu pendidikan tinggi informatika di Indonesia..
Di ranah kepakaran, Prof. Imam dikenal luas atas kontribusinya dalam bidang Keamanan Informasi dan Forensik Digital. Pencapaian sebagai World Class Professor pada tahun 2021 serta kepemilikan paten alat forensik jaringan menjadi bukti nyata kompetensinya yang diakui secara global. Namun, ilmu yang dimilikinya tidak berhenti di menara gading; melalui buku-buku referensi yang disusunnya serta kegiatan pengabdian masyarakat internasional bersama PCIA Hongkong, ia berupaya membumikan teknologi agar dapat melindungi dan memberi rasa aman bagi masyarakat luas, termasuk para pekerja migran.
Sisi humanis Prof. Imam terpancar kuat dari kehangatan keluarga besar yang ia bangun bersama sang istri, Prof. Dr. Ir. Shofwatul ‘Uyun, M.Kom. Sebagai pasangan ilmuwan yang sama-sama berkhidmat sebagai Guru Besar, keduanya menanamkan keseimbangan antara kecerdasan intelektual dan keteguhan iman kepada ketiga putri mereka—Amira, Nadira, dan Qorira—yang kini tengah menempuh pendidikan di berbagai lembaga unggulan. Bagi mereka, keluarga adalah madrasah pertama sekaligus sumber inspirasi untuk terus bergerak memberikan kebermanfaatan bagi sesama.
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Tulis Komentar